Rabu, 12 Oktober 2011

Pelatihan Pendidik Remaja Sebaya


Kendari – Pada tahun 2009, PIKHAS Sultra mengadakan kogiatan Pelatihan Pendidik Remaja Sebaya yang merupakan awal terbentuknya PIK-Mahasiswa Winslow di Universitas Haluoleo. Kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNHALU tersebut dalam rangka mengembangkan program penjangkauan dan memperluas informasi KIE di lingkup remaja dan sekitarnya.
Target dari kegiatan ini adalah siswa dan siswi SMA/SMK/MA se-Kota Kendari dan dihadiri masing-masing 2 utusan di 54 sekolah yang terdaftar.

Dengan berbagai masalah yang dihadapi remaja saat ini, pelatihan Pendidik Sebaya dinilai sangat penting bagi upaya pelayanan untuk membantu remaja memiliki status kesehatan reproduksi yang baik melalui pemberian informasi, pelayanan konseling dan pendidikan ketrampilan hidup.

Masa remaja sangat erat kaitannya dengan perkembangan psikis pada periode yang dikenal sebagai masa pubertas. Kondisi ini menyebabkan remaja menjadi rentan terhadap masalah perilaku hubungan seksual sebelum menikah, penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA), yang keduanya dapat membawa resiko penularan HIV/ AIDS.

Laura sangat berharap dari pelatihan pendidik dan konselor sebaya ini para peserta bisa mencermati sungguh-sungguh apa yang disampaikan oleh para nara sumber agar nantinya bisa menjadi pendidik dan konselor untuk dapat membantu mengatasi masalah remaja.

Narasumber dating dari BKKBN Provinsi Sulawesi Tenggara Kak Dharmasari, Dirut PIKHAS Sultra, Dosen-dosen lingkup Kesehatan Masyarakat Unhalu, dan Testimonial dari pengguna narkoba yang sedang melakukan rehabilitas Bang BIG.

Sosialisasi Kondom di Kendari Sukses, Gubernur Sultra Lega

Kendari, Di mana-mana, kampanye penggunaan kondom sering mendapat penolakan karena dianggap bisa memicu perilaku seks bebas. Namun di Kendari, tidak ada yang menolak kondom maupun metode kontrasepsi lainnya karena sosialisasinya berjalan sukses.

Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Nur Alam mengatakan tidak ada alasan untuk menolak kondom untuk mencegah kehamilan. Kondom hanya salah satu dari banyak pilihan alat atau metode kontrasepsi yang bisa digunakan oleh akseptor (peserta KB) pria.

Pilihan untuk menggunakan kondom tergantung minat masing-masing, sehingga tidak bisa diganggu gugat. Dibandingkan kontrasepsi untuk pria yang lain seperti vasektomi atau sterilisasi, kondom memang lebih praktis meski peluang kegagalannya sedikit lebih tinggi.

Selain karena sosialisasi yang dilakukan pemerintah daerah cukup efektif, media dinilai turut mempengaruhi respons masyarakat. Lewat berbagai tayangan di media, masyarakat jadi tahu bahwa kondom bukan cuma alat pelindung bagi pelaku seks bebas tetapi juga bisa membatasi angka kelahiran.

“Sejauh ini tidak ada resistensi (penolakan) terhadap sosialisasi kondom. Semua tergantung keinginan masing-masing, ada yang suka memakai kondom ada yang memilih kontrasepsi yang lain,” ungkap Nur Alam saat ditemui di Rumah Jabatan Gubernur Sultra, Kendari, Selasa malam (14/6/2011).

Oleh karena itu, tak heran jika di Kendari banyak pria yang berminat menggunakan kondom. Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Badan KB dan Pemberdayaan Perempuan Kota Kendari, Normadia mengatakan bahwa sosialisasi kondom di kalangan tukang becak direspons sangat positif.

“Responsnya sangat bagus, penggunaan kondom sangat diminati oleh para tukang ojek. Tentunya kami berharap, tidak cuma tukang ojek yang mau terlibat dalam KB. Tukang ojek saat ini dipilih sebagai sasaran sosialisasi karena alasan praktis saja,” ungkap Normadia.

Tidak adanya penolakan kondom sebagai alat kontrasepsi menunjukkan bahwa keterlibatan kaum pria dalam program KB cukup tinggi. Meski peminat kontrasepsi jangka panjang untuk pria seperti vasektomi juga meningkat, pria yang berminat memakai kondom di Kendari jumlahnya masih lebih banyak.

Secara umum, Nur Alam menilai bahwa makin banyaknya pria yang terlibat dalam program KB baik melalui vasektomi maupun penggunaan kondom dipicu oleh meningkatnya kesadaran masyarakat. Jika dulu punya banyak anak dianggap mendatangkan rezeki, kini banyak anak berarti banyak beban dan tanggung jawab

Selasa, 11 Oktober 2011

Tes HIV

Pertanyaan

  • Apa itu VCT?
  • kenapa VCT penting?
  • dimana saja bisa mendapat layanan VCT?
  • Siapa yang membutuhkan VCT?

Jawaban

· Apa itu VCT?

VCT atau Voluntary Counseling and Testing, atau konseling dan test sukarela, adalah kegiatan konseling bersifat sukarela dan rahasia, yang dilakukan oleh seorang konselor VCT yang terlatih, yang dilakukan sebelum dan sesudah test darah untuk HIV di laboratorium. Tes HIV dilakukan setelah klien terlebih dulu menandatangani inform consent (surat persetujuan tindakan)


· kenapa VCT penting?


- penting untuk dapat mengakses ke semua layanan yang dibutuhkan terkait pencegahan dan pengobatan HIV, AIDS
- penting karena memberikan dukungan untuk kebutuhan kliennya seperti perubahan perilaku, dukungan mental, dukungan terapi ARV, dan pemahaman yang benar dan faktual tentang HIV, AIDS.


· dimana saja bisa mendapat layanan VCT?


VCT bisa didapat di tempat layanan kesehatan atau klinik yang menyediakan layanan VCT, puskesmas, dan RS.

· Siapa yang membutuhkan VCT?


- mereka yang mau melakukan test HIV
- mereka yang pernah berperilaku berisiko thd penularan HIV di masa lalu dan ingin merencanakan masa depannya

Fans Club PIKHAS Sultra

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons